PEREKONOMIAN INDONESIA
Indonesia adalah sebuah negara yang memiliki potensi ekonomi tinggi;
potensi yang mulai diperhatikan dunia internasional. Indonesia - negara
dengan ekonomi paling besar di Asia Tenggara - sering disebut sebagai
calon layak untuk menjadi salah satu anggota negara-negara BRIC
(Brasilia, Rusia, India dan Cina) karena ekonominya dengan cepat
menunjukkan tanda-tanda perkembangan yang sama dengan anggota lain
tersebut. Belakangan ini sebuah kelompok baru sempat menuntut perhatian.
Kelompok ini terdiri dari negara-negara berkembang yang ditandai dengan
ekonomi menjanjikan yang beragam, sistem keuangan yang cukup canggih
dan jumlah penduduk yang tumbuh dengan cepat.
Mengawali tahun 2016, Indonesia harus mampu membangun optimisme untuk menghadapi setiap situasi ekonomi, baik global maupun domestik. Namun, kondisi ini harus tetap diwaspadai karena mengingat kondisi ekonomi global yang lebih rentan dengan krisis karena mudah berubah-ubah.
Berkaca dari tahun lalu, pengaruh terbesar bagi ekonomi
Indonesia di 2016 bisa jadi antara lain, yaitu pertama perlambatan
ekonomi Tiongkok dan kedua masih rendahnya harga minyak. Bahasan pertama
adalah pengaruh Tiongkok ke Indonesia. Sebagai mitra dagang terbesar
Indonesia, perlambatan di Tiongkok berarti memberi pengaruh pada
kegiatan ekspor. Perlu dicatat, ekonomi dunia juga mendapat pengaruh
yang sama atas perlambatan ini. Melihat hal ini, tentunya pola ekspor
Indonesia pun harus mulai diubah, dari barang mentah menjadi barang
jadi/ barang konsumsi.
Kedua, terkait harga minyak. Secara otomatis, minyak
menjadi referensi harga bagi komditas lain, dimana nilai minyak yang
rendah berimbas pada harga komoditas yang rendah. Indonesia sendiri
mulai berusaha untuk mengurangi ketergantungan kepada komoditas pada
2015 lalu. Di dalam negeri, harga minyak ini mengganggu ide pengembangan
energi terbarukan karena harganya menjadi lebih murah untuk dikonsumsi.
Hal ketiga ialah, Kebijakan suku bunga Bank Sentral Amerika
Serikat juga pasti berpengaruh pada kondisi ekonomi dalam negeri,
khususnya sektor keuangan. Hal ini tentunya harus kita antisipasi
sehingga sektor keuangan Indonesia tetap dalam kondisi stabil.
Pemerintah berkomitmen untuk melakukan koordinasi agar
dapat menjaga fundamental ekonomi baik makro, moneter, maupun fiskal.
Salah satu hal yang penting adalah bagaimana mengoptimalkan belanja
dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja (APBN) karena ini menjadi salah
satu faktor penyokong pertumbuhan tahun 2016. Di sisi lain, penyerapan
juga mulai digenjot mulai dari awal tahun, dimana proses lelang telah
diizinkan untuk dilakukan sejak November 2015. Pada Januari 2016,
beberapa proyek pekerjaan infrastruktur telah dimulai, antara lain pada
Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Pertanian, Kementerian Energi
dan Sumber Daya Mineral, dan Kementerian Perhubungan. Tahun ini,
pemerintah mengupayakan adanya penyerapan yang lebih merata, dimana
distribusi penyerapannya juga akan terlihat di semester I.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar